




Siapa yang meminta bencana datang
Tak seorangpun menginginkannya
Tapi jika lapar dan dahaga tak dapat dihadang
Maka kami rela menjadi peminta-minta
Disepanjang jalan di kota padang, memasuki jalan retak dan berlobang akibat gempa, maka saksikanlah banyak pemuda-pemudi menengadahkan kardus kosong bekas mie kepada para pengendara yang lalu lalang memasuki daerahnya.
Jikalau kita sempat mengunjungi kabupaten padang pariaman,maka disetiap sudut desa, juga dipinggir-pinggir jalan baik besar atau jalan kecil, maka kita akan menemukan anak2 kecil usia sekolah menengadahkan kardus kosong bekas mie instan kepada pengendara yang sudi ikhlas berbagi rejekinya. Mereka sama2 susah, tapi mau bagaimana lagi, bantuan makanan dan logistik belum juga menyentuh kampung mereka. Mungkin, Pemerintah terlalu lelah dan pusing mengurusi rakyatnya yang begitu banyak berserakan dalam kesusahan dan nestapa.
Bahkan para bapak yang sudah kalap karena lapar tak tertahankan rela disebut sebagai pejarah di kantor dinas kab pdg pariaman demi menyambung hidup.
Mereka, adalah anak2 bangsa ini, telah berubah menjadi pengemis.
Jangan sampai berlama-lama,sebab nanti mereka bisa berubah menjadi binasa atau srigala yang siap memangsa siapapun karena kelaparan dan kepedihan hidup yang dialami.
Marilah, siapapun kita, pikirkanlah dan bergerak! bagaimana pendidikan nasib anak bangsa ini, karena sekolah merekapun tlah hancur binasa.
Banyak tokoh pendidikan, seniman, politisi, sejarawan lahir di ranah minang. Dengan adat basandi sarak sarak basandi kitabullah.
Syahrir, buya hamka, haji agus salim dll merekapun ikut menangis…
Wallahu a’lam bishawab





















